Advertisement
RI Bersiap Terapkan Nuklir untuk Listrik, Perpres Sudah di Presiden
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). (Freepik)
Advertisement
JAKARTA--Indonesia bersiap mengandalkan nuklir sebagai sumber pembangkit listrik, seiring pembentukan lembaga khusus. Rusia pun melirik megaproyek tersebut.
Pemerintah semakin serius menggarap potensi nuklir. Bahkan, pemerintah telah menyiapkan beleid khusus untuk membentuk Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO). Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiyani Dewi. Dia menjelaskan bahwa penyusunan perpres tersebut telah selesai.
Advertisement
“Perpres sekarang di meja Presiden. Tinggal menunggu turun,” katanya, Rabu (7/1/2026). Eniya menjelaskan bahwa setelah perpres ditandatangani, pemerintah selanjutnya akan menyusun Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM. Beleid tersebut akan mengatur pembentukan kelompok kerja (pokja) dari NEPIO.
“Strukturnya itu ditentukan di Kepmen. Nah, kita sekarang sedang mendiskusikan rancangan Kepmennya,” ujarnya.
BACA JUGA
NEPIO bertujuan untuk mempercepat pembangunan PLTN. Eniya mengatakan bahwa NEPIO akan memiliki tiga kelompok kerja atau pokja. Pokja itu yakni perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Menurutnya, Tim Percepatan Pembangunan PLTN ini nantinya akan bertanggung jawab kepada Presiden dalam rangka persiapan dan pelaksanaan pembangunan pembangkit listrik berbasis atom untuk mendukung tercapainya target transisi energi dan emisi nol bersih tahun 2060.
Dia menambahkan bahwa ketika NEPIO sudah terbentuk dan rancangan undang-undang (RUU) energi baru dan energi terbarukan (EBET) sudah terbit, maka Majelis Pembangkit Tenaga Nuklir (MPTN) pun akan terbentuk.
Di sisi lain, Rusia menyatakan siap mendukung megaproyek PLTN tersebut. Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyatakan, energi nuklir saat ini semakin banyak dibicarakan secara terbuka sebagai salah satu sumber energi yang optimal.
Dia menuturkan, Rusia melalui perusahaan milik pemerintah, Rosatom, masih menanti kejelasan dari pemerintah Indonesia terkait penunjukan lembaga atau badan yang akan menjadi penanggung jawab utama pembangunan dan pengoperasian PLTN pertama.
“Dalam hal ini kami sangat bergantung pada pihak Indonesia. Kami menunggu siapa yang akan menjadi focal point di Indonesia, siapa yang akan menjadi operator atau pihak yang bertanggung jawab atas pembangunannya. Setelah itu jelas, kami akan segera memulai negosiasi,” ujar Tolchenov dalam media briefing di Jakarta pada Jumat (19/12/2025).
Tolchenov mengungkapkan, Rusia telah melakukan pembahasan dengan sejumlah institusi Indonesia, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Energi, serta PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Namun, dia mengatakan diskusi tersebut masih berada di tahap awal karena belum adanya keputusan politik dan kebijakan yang tegas.
Selain kepastian kebijakan, Rusia juga menilai kejelasan lokasi dan jenis PLTN yang akan dibangun menjadi faktor krusial. Tolchenov menyebut, Rosatom kerap menerima pendekatan langsung dari berbagai perusahaan maupun pemerintah daerah di Indonesia yang menginginkan pembangunan PLTN di wilayahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- BMKG: Angin Kencang dan Hujan Lebat Berpotensi Guyur DIY Dini Hari Ini
- Protein Anak Tak Harus dari Susu, Ini Sumber Alternatifnya
- Panen Maggot Jogoyudan Jogja, Sampah Berkurang Pendapatan Naik
- Thom Haye Antusias Sambut Laga Panas Persib vs Persija
- KPK Belum Tahan Yaqut dan Gus Alex, Tunggu Proses Lengkap
Advertisement
Advertisement
Destinasi Favorit Terbaru di Sleman, Tebing Breksi Geser HeHa Forest
Advertisement
Berita Populer
- Tekuk Atletico 2-1, Real Madrid Tantang Barcelona di Final
- Sumbu Filosofi Dijaga, Parkir Bus Dialihkan ke Giwangan
- Jadwal SIM Keliling Bantul, Jumat 9 Januari 2026
- Harga Emas Hari Ini Menguat Tipis, Pasar Tunggu Data AS
- POCO M8 & M8 Pro Resmi Rilis, Baterai 6.500 mAh dan IP69K
- Jadwal KRL Jogja Solo, Jumat 9 Januari 2026
- China Larang Ekspor Dwiguna ke Jepang, Fokus Sektor Militer
Advertisement
Advertisement




