Advertisement
Lahan Bekas Pembuangan Sampah Disulap Jadi Wisata Hijau
Peserta kegiatan Penanaman Bersama Tanaman Konservasi berfoto bersama dengan latar Gunung Merapi di Bukit Songopapat, Hargobinangun, Pakem, Kamis (22/1/2025). - Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Orang yang baru pertama kali ke Bukit Songopapat akan heran. Siapa sangka, deretan pohon yang meriung dengan latar belakang Gunung Merapi mirip lukisan mooi indie ini dulunya merupakan tempat pembuangan sampah.
Dulu, sampah tak terpilah bercampur dan menggunung. Bau yang menguar seperti bangkai dan amis. Jika hujan turun, air akan berubah menjadi lindi yang mencemari lingkungan sekitarnya. Padahal, tanah di lereng Merapi terkenal subur dan menjadi hunian fauna, seperti Macaca Fascicularis atau monyet ekor panjang. Namun saat ini, kondisinya berubah 180 derajat.
Advertisement
Pada Kamis (22/1), sejumlah orang berkumpul untuk mengikuti kegiatan Penanaman Bersama Tanaman Konservasi yang dihelat Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (FKPDAS).
Selesai penanaman, Masrur Alatas, langsung bergabung dengan peserta sarasehan. Ia adalah Ketua FKPDAS DIY. Forum ini beranggotakan dari berbagai unsur baik pemerintah, akademisi, masyarakat, swasta, maupun komunitas.
BACA JUGA
“FKPDAS DIY menjadi wadah menyalurkan aspirasi dan keinginan bersama untuk mewujudkan Hamemayu Hayuning Bawana. Kami adalah bagian dari warga daerah aliran sungai,” kata Masrur ditemui di Bukit Songopapat, Hargobinangun, Pakem, Kamis.
Di sisi Bukit Songopapat yang lain, ada sebuah plakat yang memuat tulisan “Anda berada di Zona Sumbu Filosofi Yogyakarta. Sebuah garis makrokosmos yang menghubungkan Pantai Parangkusumo–Panggung Krapyak–Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat–Tugu Pal Putih–dan Gunung Merapi yang merupakan warisan budaya.
Titik-titik lokasi yang merangkai garis makrokosmos itu masuk dalam daerah aliran sungai (DAS) yang perlu dilestarikan. Hal ini juga yang mendasari kegiatan penanaman pohon jenitri kali ini.
Selain cocok sebagai konservasi, jenitri memiliki nilai ekonomi. Biji buah jenitri bisa digunakan untuk membuat berbagai macam kerajinan.
“Kami berharap dukungan berbagai pihak untuk melestarikan lingkungan. Kami berupaya melakukan konservasi baik air tanah maupun udara,” katanya.
Kepala Bidang Rehabilitasi Konservasi Alam dan Perlindungan Hutan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Fery Maryulianti, menyampaikan pandangannya dari sisi manfaat pelestarian lingkungan.
Sebuah tradisi memiliki keterkaitan erat dengan lingkungan sekitarnya. Keduanya saling memengaruhi. Apabila lingkungan rusak, tradisi berpotensi punah. Padahal, tradisi mengandung nilai dan moralitas yang menjadi kompas penuntun masyarakat di tengah peradaban global yang modern. “Budaya di Lereng Merapi kental dan lestari. Beberapa hari lalu ada Labuhan Merapi. Air dan udara yang lestari akan memberi manfaat masyarakat,” kata Fery.
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo (BPDAS SOP), Rochimah Nugrahini, memberi patokan dalam mencermati fungsi DAS. DAS dapat dikatakan sehat ketika hujan tidak terjadi banjir, dan ketika musim kemarau mata air dan sungai tetap mengalir airnya.
Jika yang terjadi sebaliknya berarti air tanah menurun kuantitasnya atau jumlah penyimpanannya, sehingga saat kemarau mata air mati dan sungai kering di musim kemarau.
Ia juga menyinggung bagaimana pertambangan memengaruhi aliran sungai. Perlu ada penertiban kegiatan pertambangan yang menyimpang.
Salah satu penyebab air tanah berkurang dan air tanah turun akibat hutan gundul, atau alih fungsi lahan atau berkurangnya pohon konservasinya, kanopi pohon menyusut.

Peluang Ekonomi
Lurah Hargobinangun, Amin Sarjito, menjelaskan nama Bukit Songopapat diambil berdasarkan kejadian erupsi Gunung Merapi pada 1994. Bukit ini sejak 2013 telah menjadi lokasi pembuangan sampah. Selama 12 tahun, tumpukan sampah mencapai 8.000 ton.
Ia khawatir sampah-sampah itu mencemari sumber mata air di Lereng Merapi dan Sungai Boyong. Sampah ini kemudian ditimbun pada Juli 2025, mirip sistem sanitary landfill. Artinya, Bukit Songopapat berdiri di atas timbunan sampah.
Berkat kerja sama dengan berbagai pihak, ia berhasil mengalihkan lokasi pembuangan sampah ke Rumah Pengelolaan Sampah (RPS) Hargobinangun. “Setelah lebaran nanti akan ada objek lagi semacam spot khusus untuk wisatawan. Rute Jeep Merapi sampai sini juga buat foto,” kata Amin.
Pengelolaan sampah di Kalurahan Hargobinangun juga telah selesai. Amin mengusung konsep one day service. Sampah hari itu juga harus selesai pada hari yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Bukan Sekadar Alternatif Susu Ini Keunggulan Susu Unta
- Wisatawan Nekat Terobos TPR Parangtritis demi Hindari Tiket Masuk
- Minuman yang Sering Dikira Sehat Ini Justru Bebani Jantung
- Pemkot Jogja Kaji WFH Bagi ASN Guna Tekan Biaya Operasional Kendaraan
- Deadline LHKPN 31 Maret: 96.000 Pejabat Belum Lapor Harta Kekayaan
Advertisement
Tol Baru dan Mudik Gratis Gerus Penumpang Terminal Wates Kulonprogo
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Tak Semua Orang Perlu Multivitamin Ini Kata Ahli Gizi
- Tak Perlu Buru-buru, Batas Lapor SPT Pajak Tiba-tiba Mundur
- Ambisi Calafiori Bawa Timnas Italia Akhiri Kutukan Absen Piala Dunia
- Satoria Hotel Yogyakarta Hadirkan Paket Halalbihalal Magical Raya
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
- Pengolahan Mandiri Efektif, Sampah Residu di Demangan Jogja Berkurang
- Kebijakan WFH Final, Menkeu Purbaya Sebut Pengumuman Segera Dilakukan
Advertisement
Advertisement







